Maaf :(
28 November 2012 | 15:10:00 | Author: diana bochiel
Aku bukan apa apa jika tanpamu, lebay iya tau. Tapi apa salahnya mengutarakan yang aku rasa saat ini. Aku lama menyendiri lama menjauh memelihara rasa sakit atas apa yang dia lakukan padaku dahulu. Pas setaun yang lalu november 2011 aku melepasnya dengan penuh airmata dan kecewa..

Berbulan bulan aku bersusah payah menghilangkan rasa sakit.. dan sampai akhirnya semesta mempertemukan kita. Di dunia maya dengan perantara teman semua dengan kesamaan hobby membaca. Dan karna buku perjalanan yang dibuat teman teman kita, kita bertemu dan akhirnya menyatu. Aku bahagia, sangat bahagia.. karnamu bukan karna siapa siapa

Kegigihanmu,ketulusanmu mendapatkan aku, buat hati yang hampir menjadi batu pun pecah,luluh karna kasih sayangmu.. aku menyerah pada egoku, aku mengalah pada perasaanku, perasaan yang tidak bisa aku sembunyikan lagi.. perasaan untukmu, perasaan ingin terus bersamamu, ingin bahagia terus bersamamu, tanpa air mata.

Tidak pernah sebelumnya aku merasa bahagia seperti ini, bahagia memilikmu. Dan kemarahanmu saat ini karna sikapku yang mungkin membuatmu berfikir kembali pantaskah kamu memilikiku, aku kembalikan padamu. Sekali lagi maaf, semua kesalahan kemarin yang aku lakukan semata karna aku takut kehilanganmu, aku lepas kendali. Aku sayang kamu

M.Reza Pahlevi Read More..
Cerpen 1 ( Thanks Niken )
| 14:55:00 | Author: diana bochiel
"Dia siapa?"
"Kamu kenapa sih hampir semua temenku kamu tanya dengan pertanyaan yang sama, dia siapa. Sebelum aku jawab siapa, aku dulu yang tanya "emang kenapa tanya tanya".
"Gak kok, gak kenapa napa, tanya aja, salah emang?" Ehhh Niken mau kemana kok aku ditinggal? Ga sopan pacarnya tanya malah pergi, Ken... Niken tunggu...

*Diruang kerja divisi GA*


"Heh, lo kenapa sih, bisa ga sih kalo dari luar ga grabak grubuk ganggu ketenangan yang lain tau, brisik." Omel Sinta pada Niken. "BODO!! Gw mendingan diocehin orang satu divisi ini dari pada terus terusan ditanya hal yang sama ama si cowo protektif itu, Dhani". Sungut Niken pada Sinta sahabatnya yang kebetulan satu divisi dengannya.
"Ya udahlah, mo gimana lagi, cowok lo emang unik..hihi " ledek Sinta. "diem luh, malah ngeledek, bete gw, eh sstt diem yah..Raka telp nih." Niken seketika senyum sumringah ke arah Sinta. "Yah kalo gw jadi Dhani juga ngelakuin hal yg sama kalo punya cewek macem lo, ganjen, Dhani iya, Raka iya, terus bentar lagi Rahmat di embat". Sambil menjauhkan ponselnya Niken mengepalkan tanggan tanda ingin meninju sahabatnya, "Rahmat sih buat lo aja Ta gw ikhlas.." seru Niken lirih. Rahmat itu cleaning service kantor mereka yang minyak wanginya aduhai banget wanginya, Rahmatnya udah dilantai satu, bau wanginya masih nyangkut dilantai lima.


*Lift HRD*

"Bro, duluan yeh," "Kemana sih tengo amat, sini dulu lah ngopi ngopi, cewe lo juga belom keluar dari sarangnya" ajak Fandi pada Dhani "Ga ah, tengs.. gw ada urusan penting, bye!" TING! *lift lantai 7 tertutup* TING! Lift lantai 5 terbuka*

Dhani clingak clinguk..mencari sosok wanita hatinya. "Hey Dhan, cari Niken ya? Yaiyalah masa cari gw ya hahha" tawa renyah Sinta mencairkan suasana tegang Dhani sia sia, Dhani terus mencari dimana wanitanya berada, Dhani menyerah tidak juga ia menemukan sosok mungil Niken. Akhinya mau ga mau Dhani pun bertanya dg Sinta yang sudah dari tadi menunggu pertanyaan yang sudah ia duga, menurut Dhani menanyakan keberadaan Niken padanya saat lumrah, karna Sinta selain satu divisi tetapi juga teman dekat selagi kuliah. "Duh, sorry Dhan, kali ini gw ga tau cewe lo kemana, ga ada bbm juga ke gw, soalnya gw baru aja dari toilet, taunya udah ngeloyor pergi aja tu bocah, gw pikir sama lo" sementara itu lift terbuka dan Sinta pamit meninggalkan Dhani yang masih kebingungan. Belum sempat Dhani teriak pd Sinta untuk mengabari kalo ketemu Niken pintu lift sudah tertutup dan membawa Sinta turun.


Dhani bergegas menuruni tangga darurat mengejar Sinta dan siapa tau masih beruntung bertemu Niken di lobby. Kurang beruntung, Dhani tidak mendapati keduanya, merasa kesal Dhani menuju parkiran dan memutuskan untuk mengambil kue pesanannya, pulang bersih bersih diri dan segera kerumah Niken, melamarnya. Yah itu rencana Dhani wajar jika malam ini ia persiapkan sebaik dan sesempurna mungkin.
*Parkiran kantor* "Ah, shiiit! Perasaan tadi masih full ni bensih, kenapa jadi tinggal segaris." Sembari misuh misuh Dhani liat sosok Tyo sedang santai cengengesan. Ide cemerlang Dhani muncul tiba tiba. "Yo..lo masih lama kan? Gw butuh bantuan lo, lo pake motor gw ye, isiin bensin, ini duitnya, dan gw pake motor lo, gw yakin bensin lo full nanti gw isi, plis jgn nolak gw mau lamar Niken malam ini" Niat Tyo mau ngomel pun ilang seketikasaat dengar apa tujuan Dhani buru buru, dan tanpa aba Tyo pun memberikan kunci motornya. "Wess, sukses bro..." "sipp tengkyu" Dhani melaju cepat ke toko kue untuk mengambil pesanan chesse cake favorite Niken, kue ditangan, senyum puas dan Dhani lanjut menuju rumah untuk mandi dan bergegas kerumah pujaan hati, pikirnya yakin Niken sudah dirumah karna ngambek dengannya ulah pertanyaannya tadi siang.


Sesampainya dirumah dengan senandung lirih dari mulutnya yang tak jelas menyanyikan lagu apa Dhani membayangkan betapa cantiknya wanita yang dia cintai lebih dari setahun belakangan ini, saat memakai gau pilihannya, mungil dan cantik sudah pasti, ahh Niken sebentar lagi aku akan melamarmu, akan ku jaga kamu seumur hidupku.. restu keluarga besar, teman teman sudah kudapat, materi dan karierku aku rasa cukup. Sesekali Dhani memastikan persiapannya, gaun sudah, cake sudah, penampilan juga sudah dirasa cukup.


*Rumah Niken*Pintu diketuk, salam berkali kali tidak ada sautan, pintu terbuka sedikit Dhani mencoba masuk ruang tamu, sepi. Diketuknya sekali lagi pintu rumah Niken, masih tetap sama , tidak ada jawaban, "Assalamualaikum.. tanteee, mbok..., Rena.." semua yang Dhani kenal tidak menjawab. Sepi.. Seperti mendengar suara orang dari dalam, Dhani mendekat, pasang kuping baik baik dan suara rintihan semakin jelas, perlahan Dhani mencari sumber suara itu, yakin suara itu berasal dari salah satu kamar yang ada di depannya, dan yakin itu kamar Niken.Segera Dhani ingin membukanya.Dengan degub jantung yang sudah tidak menentu, Dhani mendobrak kamar itu, dan terjadi apa yang Dhani bayangkan lima menit sebelum membuka pintu, hal yang buruk menerjang hatinya. Dhani mendapati Niken Bersama pria lain dalam kamar tanpa busana, peluh masih terlihat jelas di keduanya, jelas ada hasrat yanb baru saja tuntas. Semua tercekat, kaku, kelu."Maaf mengganggu, ini untuk kamu, selamat bahagia. Aku pergi"
Read More..